ilustrasi/nature.org
ilustrasi/nature.org

Blue Carbon: Peluang Indonesia untuk Berkontribusi Lebih Besar dalam Pengendalian Perubahan Iklim

Indonesia sebagai salah satu negara kepulauan terbesar dengan jumlah pulau ±17.000 memiliki kerawanan cukup tinggi terhadap dampak negatif perubahan iklim yang saat ini terjadi. Kenaikan muka air laut menjadi salah satu ancaman terbesar untuk Indonesia, karena jika tidak segera diatasi maka sebagian wilayah Indonesia akan tenggelam. Hal ini mendorong pemerintah Indonesia menetapkan mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim sebagai isu prioritas. Setelah 195 pemimpin negara menandatangani Paris Agreement pada tahun 2015 dan berkomitmen untuk membatasi kenaikan suhu global di bawah 2°C dari tingkat pra-industrialisasi dan melakukan upaya membatasinya hingga di bawah 1,5°C, Indonesia segera meratifikasi perjanjian tersebut ke dalam UU No. 16 tahun 2016. Undang-undang ini semakin mempertegas komitmen pemerintah Indonesia untuk memerangi perubahan iklim.

Beragam solusi ditawarkan dalam upaya mitigasi perubahan iklim, dan salah satu solusi untuk Indonesia berkontribusi lebih besar dalam memerangi perubahan iklim adalah blue carbon. Blue carbon merupakan karbon yang diserap ekosistem pantai dan laut dan mencakup lebih dari 55% karbon hijau sedunia. Blue carbon sciences Indonesia menjadi leader dan telah memiliki metodologi penelitian yang diakui secara internasional. Banyak publikasi ilmiah yang diterbitkan secara internasional terkait blue carbon yang dihasilkan oleh peneliti Indonesia (salah satunya adalah CIFOR). Potensi penyerap blue carbon di Indonesia adalah ekosistem mangrove, rawa payau, dan padang lamun. Potensi untuk mangrove Indonesia adalah 3,11 juta hektare dengan kemampuan penyerapan karbon 122,2 juta ton/tahun dan padang lamun seluas 3 juta hektare dengan kemampuan penyerapan karbon 16,11 juta ton/tahun. Ekosistem mangrove, padang lamun, dan rawa payau memiliki beberapa fungsi, diantaranya adalah menjadi benteng alami dari gelombang, abrasi, bencana tsunami, mengurangi besarnya energi gelombang di pantai dan berperan sebagai penstabil sedimen sehingga mampu mencegah erosi di pesisir pantai.

Blue carbon sangat berpotensi dalam mendukung program nasional penurunan emisi, ketahanan pangan dan pengentasan kemiskinan, namun kompleksitas pengelolaan, kapasitas pelaksanaannya masih memerlukan peningkatan, serta masih menemui beberapa tantangan dalam mengembangkannya. Tantangan yang harus dihadapi untuk mengembangkan blue carbon diantaranya, tingginya angka kerusakan ekosistem baik mangrove, padang lamun, dan rawa payau yang disebabkan oleh konversi menjadi lahan tambak, reklamasi, polusi, tumpahan minyak, sampah dan tumpang tindih antara konservasi ekosistem dengan kebutuhan pembangunan infrastruktur (jembatan, jalan, tempat ibadah, perumahan, dan lainnya). Tantangan lain yang juga dihadapi Indonesia dalam mengembangkan ekosistem mangrove adalah belum tercapainya target rehabilitasi dari 25.000 ha/ tahun hanya terealisasi sekitar 8.000 ha/ tahun.

Isu strategis yang perlu diperhatikan terkait inisiatif blue carbon adalah potensi konflik ruang laut dengan adanya berbagai kegiatan pemanfaatan, sehingga perlu adanya integrasi kebijakan dari semua stakeholder terkait termasuk masyarakat sekitar pesisir yang selama ini memanfaatkan sumberdaya alam di wilayah pesisir dan laut. Perlu adanya sistem yang menjadikan masyarakat mampu dan terlibat aktif dalam memanfaatkan ekosistem penyerap blue carbon secara berkelanjutan. Public awareness menjadi penting dilakukan dalam rangka pemanfaatan SDA secara berkelanjutan karena akan memunculkan tanggung jawab dari masyarakat untuk menjaga dan melestarikan SDA baik mangrove, padang lamun, ataupun rawa payau.

Belajar dari rehabilitasi mangrove yang dilakukan oleh Dosen Ilmu Teknologi dan Kelautan IPB di Pangandaran dan Lombok memperlihatkan hasil bahwa melibatkan Palang Merah Indonesia (PMI) ternyata cukup efektif untuk meningkatkan public awareness, karena masyarakat sudah memiliki kedekatan dengan PMI setiap terjadi bencana sehingga antusiasme yang tinggi ditunjukkan oleh masyarakat ketika PMI berperan sebagai fasilitator dalam rehabilitasi atau restorasi ekosistem mangrove. Upaya rehabilitasi dan pengembangan ekosistem penyerap blue carbon dapat dilakukan melalui kerjasama dengan CSR perusahaan/ swasta. Bagian terpenting dalam rehabilitasi atau pengembangan eksosistem penyerap blue carbon adalah integrasi kebijakan multi stakeholder, sistem pemanfaatan yang berkalanjutan, pendekatan pengembangan yang bottom up, serta komitmen dan konsistensi dari seluruh stakeholder untuk pelestarian SDA penyerap karbon sebagai solusi pengendalian perubahan iklim.

 

Himma/Yul

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

x

Check Also

Ananda Mustadjab Pembicara Hari Bumi

Ketua YPBI Saat Menjadi Narsum di Acara Hari Bumi 2017