Memajukan Ecosentrisme: Demi Kesinambungan Alam-Lingkungan!

Bob Arun Ronaldi R

Bob Arun Ronaldi R

Oleh : Bob Arun Ronaldi R (Direktur Riset dan Pengembangan Lingkungan YPBI).

Saat Eropa abad pertengahan dalam genggaman theosentrism (pengelolaan negara atas nama Tuhan), ilmu pengetahuan dan rasionalisme seakan lumpuh, peradaban mistis merajalela. Banyak pemikir-filsuf dipancung masa itu karena berani menawarkan gagasan baru secara terbuka. Sebut saja Galileo,yang berpandangan bahwa Bumi mengitari Matahari. Joan de Arc dan Longstrides yang menawarkan magna-charta, persamaan hak setiap manusia. Semuanya “dibunuh” atas nama Tuhan akibat berpandangan diluar mainstream (gereja). Zaman itu dianalogikan sebagai the dark age, zaman gelap. Beberapa abad kemudian,  tahun 1690, John Locke menulis Two Treatises on Government, tentang dua konsep dasar kebebasan:kebebasan ekonomi (hak memiliki dan menggunakan kepemilikan);dan kebebasan intelektual (termasuk kebebasan berpendapat). Tak lama setelah itu eropa diterangi era pencerahan (enlightment) dan kebangkitan revolusi industri.

Itulah tahap puncak antroposentrisme dimana rasionalitas dan kepentingan manusia sebagai pusat pemikiran. Apapun sah diperbuat demi memuliakan manusia dengan segala kehendak dan kepentingannya. Sains dan ilmu pengetahuan mengambil alih kemudi peradaban, dan rezim theokratik dipendam di seluruh belahan eropa. Bermacam filsafat, teori, paradigma, teknologi, ditemukan dan diciptakan. Kebebasan/persamaan hak menjadi atmosfer segar yang mendorong kecerdasan dan ambisi manusia untuk menggali misteri semesta. Kekayaan alam yang ada di permukaan bumi (SDA hayati) serta yang ada di dalam tanah (SDA non-hayati) pun dikelola dan dieksploitasi, demi pemenuhan kebutuhan dan ambisi manusia. Antroposentrisme juga dipandu oleh adagium cogito ergo sum Rene Descartes (Cartesian), serta hukum kekekalan energi Isaac Newton (newtonian). Empirisme, Rasionalisme, Individualisme, Cartesian-newtonian bisa dibilang kitab-kitab terpenting antroposentrisme.

 

Krisis Energi dan Keusangan Antroposentrisme

Tulisan ini memang tidak membahas nasib Indonesia sebagai entitas budaya dan geopolitik anugerah Tuhan, namun mengurai dimensi worldview. Penulis beranggapan falsafah dan worldview (cara pandang dunia) adalah dasar/alasan suatu perilaku dan norma subjektif individu/masyarakat dan dalam konteks ini (falsafah) antroposentrisme merupakan penyebab krisis energi dan kerusakan lingkungan. Kembali kepemikiran Locke di atas, tentang kebebasan ekonomi yang memaksimalkan kehendak manusia yang berpotensi serakah tanpa batas kepemilikan, dimana mendorong penciptaan sarana pemusnah peradaban demi pemenuhan ambisi-serakah individu/korporasi/negara terhadap individu/kelompok/negara lain. Jika dulu sarana pemusnah berupa teknologi perang, kini bertransformasi secara lebih canggih dan halus, berupa life style, teknologi informasi/IT, jaringan distribusi, hingga  “komunitas epistem”.

Energi adalah sumber kehidupan. Jika ada anggapan kapital adalah sentrum kekuasaan, itu keliru. Kapital adalah alat tukar, sementara energi adalah penggerak kehidupan yang merubah wajah dunia. Capital-Industrial follow energy, begitulah fenomena sesungguhnya, bukan sebaliknya. Saat Unieropa (dimotori Perancis) mengembargo sawit (CPO) asal Indonesia karena dituding tidak ramah lingkungan, maka Rusia memilih keluar (jika perlu) dari Uni Eropa karena lebih butuh CPO Indonesia demi pemenuhan konsumsi energinya. Alasan Unieropa, sudah waktunya paradigma “green economy” jadi pijakan mengelola SDA (save energy). Sementara Rusia masih tertinggal pada urusan konvensional (use energy).

 

Memajukan Ecosentrisme demi Keberlanjutan Semesta

Club of Rome tahun 1975 mengingatkan dunia akan bahaya laten malapetaka yang mengancam peradaban jika cara pandang manusia modern terhadap ekosistem tidak berubah atau diubah, khususnya konsep pertumbuhan demi pertumbuhan tanpa memperhatikan ekologi secara holistik dan integral. Holistik adalah memandang alam semesta secara keseluruhan dan tidak sebagian-sebagian. Sedangkan “pandangan ekologis” adalah memahami alam semesta sebagai sistim kosmik yang merupakan jaringan saling terhubung serta berkemampuan self-organization. Kesadaran ekologi adalah kesadaran integral, saling berhubungan antara satu fenomena dengan fenomena yang lain. Filsuf Morris Berman menyebut kesadaran holistik-ekologis sebagai participating consciousness yaitu kesadaran bersama ikut berpartisipasi dalam kesatuan kosmik. Dimana alam dan lingkungan bukan lagi pelacur yang bisa “dipakai” kapan saja. Alam pun memiliki “ruh”, kaidah sebagaimana manusia dan masyarakat memilikinya. Inilah kesadaran ecosentrisme. Demi keberlanjutan self-organization alam semesta, kini sudah waktunya memuseumkan kepongahan antroposentrisme dan mengedepankan kearifan ecosentrisme.!! (13/06/2016)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

x

Check Also

Ananda Mustadjab Pembicara Hari Bumi

Ketua YPBI Saat Menjadi Narsum di Acara Hari Bumi 2017