Pengukuran Gas Rumah Kaca Standar Global Sedang Dipersiapkan

Dunia sedang menanti metode pengukuran gas rumah kaca, terutama karbon dioksida. Nantinya akan ada standar global yang disepakati bersama untuk mendukung pembangunan dunia yang ramah lingkungan.

“Tahun depan akan dilakukan voting dan penyusunan draf final. Standar ini diharapkan disahkan menjadi standar ISO pada akhir 2017,” kata Yustinus Kristianto Widiwardono, Kepala Bidang Mekanika, Elektronika, dan Konstruksi di Pusat Perumusan Standar Badan Standardisasi Nasional (BSN), yang juga Ketua Komite Teknis (TC) 207, mewakili Indonesia, di Jakarta, Senin (21/11). Wakil ketua komite teknis itu adalah Chikalo Makino dari Jepang.

Penetapan standar dunia itu diajukan BSN mewakili Indonesia pada Organisasi Standardisasi Internasional (ISO) tahun 2010. Namun, baru disetujui dibahas dan dirumuskan April 2015.

Serangkaian rapat sejak April 2015 hingga Juni 2016 telah dilakukan di empat negara, termasuk Indonesia, untuk menghimpun masukan, menyusun draf awal, dan melakukan pembahasan.

Pada metode pengukuran, ujar Kristianto, diatur cara pelaporan nasional yang merupakan agregasi jumlah emisi per sektor dan dari tiap wilayah kota/kabupaten. Disusun pula panduan pengukuran standar tersebut yang menyangkut mutu dan tingkat ketelitian, jenis peralatan, dan kemampuan tenaga pelaksana.

Standar metode pengukuran GRK menyangkut aspek mitigasi dan adaptasi terhadap pemanasan global. Penetapan standar dunia itu nantinya akan berimbas pada pelabelan produk. Pada pembuatan suatu produk, setiap tahapnya harus menyebut tingkat emisi karbon yang dihasilkan. Itu menuntut penggunaan mesin atau alat yang ramah lingkungan dengan emisi karbon rendah.

Di Indonesia, pengukuran emisi CO2 sejak 2004. Data Stasiun Pemantau Atmosfer Global Bukit Kototabang, Sumatera Barat, tren kenaikan linier, 0,174 ppm per bulan. Dari 372 ppm tahun 2004 jadi 397 ppm pada Juni 2015. Adapun November 2015 naik jadi 402,7 ppm dengan rata-rata dunia 400,2 ppm.

Menurut Kepala Pusat Iklim dan Kualitas Udara BMKG Dodo Gunawan, untuk meningkatkan kontribusi pemantauan GRK, Indonesia membangun dua stasiun baru: di Palu, Sulawesi Tengah, dan Sorong, Papua Barat.

(Yun-Kompas)

Baca Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

x

Check Also

Ananda Mustadjab Pembicara Hari Bumi

Ketua YPBI Saat Menjadi Narsum di Acara Hari Bumi 2017