Perubahan Iklim Butuh Komitmen dan Konsistensi Bukan Sekedar Dokumen atau Janji

Pembahasan terkait perubahan iklim seolah tidak pernah usang untuk dibahas dan didiskusikan. Umur bumi yang semakin tua dan perilaku manusia yang tidak bersahabat dengan alam menjadikan ancaman perubahan iklim semakin nyata. Dampak negatif yang ditimbulkan oleh perubahan iklim dirasakan secara global dan menyeluruh, sehingga solusi dari persoalan ini harus komperehensif dan melibatkan banyak pihak. Menanggapi begitu kompleksnya persoalan ini, pemimpin negara, LSM, media, akademisi, swasta, dan stakeholder lainnya bertekad untuk menemukan solusi yang tepat dalam menyelesaikan persoalan perubahan iklim global. Masing-masing stakeholder tersebut mengambil peran dan berusaha sebaik mungkin dalam merumuskan kesepakatan bersama.

Salah satu kesepakatan terkait lingkungan hidup global yang mendapat perhatian besar adalah Paris Agreement (2015) yang ditetapkan pada COP 21. Kesepakatan Paris memilih tahun 2020 sebagai tahun pertama implementasi. Salah satu poin penting kesepakatan Paris adalah komitmen untuk menurunkan kenaikan suhu global di bawah 2 derajat celcius dari tingkat pre-industri dan melakukan upaya untuk membatasinya hingga di bawah 1,5 derajat celcius. Komitmen, ketegasan, dan konsistensi dalam implementasi setiap poin yang disepakati menjadi bagian terpenting, karena tanpa ketiga hal tersebut Kesepakatan Paris hanya akan menjadi dokumen tanpa bukti.

Selain poin tersebut di atas, poin penting lainnya yang juga disepakati adalah mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim. Terkait dengan mitigasi, komitmen negara maju untuk membantu dan memfasilitasi negara berkembang penting dilakukan. Selanjutnya terkait dengan adaptasi, terdapat ‘global goal’ yang ditetapkan untuk meningkatkan kapasitas adaptasi masyarakat terhadap perubahan iklim. Adaptasi menjadi poin penting karena perubahan iklim saat ini mengancam kelangsungan hidup penduduk dunia termasuk petani dan nelayan karena kacaunya cuaca dan musim saat ini. Dampak panjang yang dikhawatirkan terjadi adalah terancamnya ketahanan pangan yang menimbulkan bencana kelaparan secara global.

Oleh : Himmatul Ulya (Mahasiswa IPB)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

x

Check Also

Ananda Mustadjab Pembicara Hari Bumi

Ketua YPBI Saat Menjadi Narsum di Acara Hari Bumi 2017